Kira-kira seminggu yang lalu, saya mendengar diskusi tentang perayaan HUT RI. Diskusi ini saya dengar di radio dan diselenggarakan oleh salah satu organisasi di Masjid Salman ITB yang berkenaan dengan masalah remaja. Dalam diskusi itu dibahas masalah tentang rasa nasionalisme remaja Indonesia yang mulai luntur. Mereka juga menambahkan bahwa merayakan Kemerdekaan RI seperti lomba-lomba di kampung dan lainnya terkesan hanyalah sebuah hura-hura. Tidak terlihat rasa nasionalisme yang ditimbulkan.
Saya tidak setuju dengan pendapat itu. Sekilas, lomba-lomba seperti panjat pinang, makan kerupuk, balap karung, makan kelereng (upss?), dsb tidak ada maknanya. Namun, adanya acara itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Lomba-lomba itu diadakan untuk anak-anak. Mereka belum mengetahui banyak tentang Indonesia. Mereka belum mengetahui banyak tentang hari kemerdekaan. Oleh karena itu, agar menarik perhatian mereka, agar mencari ilmu lebih jauh tentang sejarah Indonesia dan rasa nasionalisme itu sendiri, tak apalah acara ini diadakan sebagai stimulan bagi mereka.
Di rangkaian acara ‘tujuh-belasan’ di kampung-kampung, terlihat banyak sekali kemeriahan. Warga kampung secara suka rela bekerja sama, bersatu, saling membahu untuk memeriahkan perayaan ini di kampung mereka. Inilah sisi lain dari sekedar lomba makan kerupuk. Kerja sama, bahu membahu, persatuan, dan juga keceriaan. Hal yang sangat sulit untuk dicapai jika negara kita dijajah. Dan semua itu lebih berharga daripada sekedar kata nasionalisme.
Menurut Anda, bagaimanakah seharusnya perayaan HUT RI itu?
