Ketika saya kecil saya tidak bisa berbicara. Saya baru bisa berbicara ketika saya berumur dua tahunan lebih. Rupanya, bagian pengingat saya tumbuh (berkembang) lebih dahulu daripada bagian pengatur suara saya. Oleh karena itu, saya bisa mengingat ketika saya kecil saya berdiri di atas kursi mendekat ke jendela atau merangkak ke ruang makan yang lantainya di desain agak lebih tinggi dari pada lantai ruang keluarga di sebelahnya, kemudian seraya berteriak “Auuuuwwww”. Semacam teriakan kemenangan. Entah apa yang aku menangkan.
Begitu pula jika saya bermain di kamar kakak. Kakak menggenggam bukunya, dia sedang belajar. Aku merangkak mendekati dia di atas tempat tidur. Sesampainya di atas tempat tidur, aku menepi dan melakukan ritual kemenangan. Kemenangan karena akhirnya aku bisa bersuara juga walau akhirnya ritual itu harus diakhiri karena kakakku mengeluarkanku dari kamarnya. Menganggu ketenangan dia belajar. Lama demikian hingga akhirnya kakakku membeli kaset Mr. Big dengan album berjudul Lean to It.
Single spektakulernya adalah To be With You
|
“ |
I’m the one who want to be with you…
Deep inside I hope you feel it too…
Waiting on the line of green and blue…
Just to be the next to be with you…
Akhirnya saya yang belum bisa berbicara akhirnya malah bisa bernyanyi. Lagu inilah yang jadi hits pertama saya. Selanjutnya menuntun saya berbicara lancar dan menyanyikan berbagai lagu lain, Indonesia, Jawa, atau Mancanegara. Nuansa Rocker ini membuatku menjadi rocker cilik. Beruntung ayah mengajarkanku lagu lain yang lebih aman. Lagu ini mungkin berasal dari Jawa Tengah, “Montor Cilik”
|
“ |
Montor-montor cilik sing numpak mbleneg…
(Mobil, mobil kecil yang naik gemuk)
Lagu inilah yang membuat namaku melejit. Jadi pop star di kawasan RT ku. Maklum, waktu aku nyanyi “To be with you” para bapak-ibu malah sibuk menanyakan artinya kepada ku. Mereka bertanya padaku, aku bertanya pada siapa?. Hingga sekarang, lagu “To be with you” ini selalu aku dengarkan setiap waktu. Ah, kenangan masa kecilku.
