Beruntung saya dapat kesempatan untuk bisa melihat film AAC (ayat-ayat cinta) seminggu lebih cepat dari pada kalian. Cerita yang ditampilkan bagus, bisa bikin terharu, dan kita bisa ikut dalam suasana dari ceritanya. Pokoknya lumayan lah. Namanya juga Hanung, pasti jago bikin ceritanya.
Namun tak ada gading yang tak retak. Alur, konflik, bla-bla… semua yang berkaitan dengan unsur ekstrinsik dan intrinsik digarap dengan bagus kecuali nilai agama. Ada banyak scene yang memiliki kesan negatif terhadap hukum-hukum Islam. Saya akan mencoba memaparkannya. Oh ya, sebelum mulai, tidak ada maksud dari saya untuk membuat film ini laku atau malah tidak laku dari tulisan ini. Saya hanya menyampaikan apa yang insyaallah benar dan apa yang memang salah. Jika Anda belum menonton filmnya dan berkeinginan untuk menonton, maka tulisan ini bisa Anda jadikan guide sebagai koreksi di scene yang saya maksudkan. Jika Anda sudah menontonnya, maka silakan Anda bertukar pendapat dengan saya. Kita mulai.
1. Sunnah-sunnah tak dijalankan
Tahu arti sunnah kan? Jika dijalankan akan mendapat pahala, jika tidak maka eman-eman (jav. Sayang banget). Semua kepribadian Rasul bisa (wajib) dicontoh, karena di diri Rasul telah ada suri teladan yang baik bagi kita (Read. Q.S 33:21). Nah ini berlaku bagi semua orang muslim. Termasuk Saiful, temannya Fahri. Dia adalah mahasiswa Al-Azhar sekaligus menjadi penasehat ulung bagi Fahri yang minum greentea sambil berdiri dan menggunakan tangan kiri. Dia juga makan Pop Mie sambil berdiri di awal-awal cerita. Make sense ga? Mendidik ga?
2. Fahri, main actor, ga bisa jaga pandangan ke perempuan (Sorry, I have to say it!)
Awalnya liat Fahri di filmnya… Wih, hebat banget. Dia nemuin Maria untuk dimintai tolong benerin komputer. Pas, minta tolong, dia santun banget, pandangannya bener-bener terjaga. Well, tapi itu cuma terjadi dua kali. Satunya lagi pas ngobrol ama bule, Alicia, jurnalis asal US. Pandangan tak terjaga pertama, dia tujukan kepada Maria. Pada saat ditepi Sungai Nil, mereka membicarakan ttg Sungai Nil, Mesir, dan Jodoh. Mereka berdua (inget kan kalo laki-laki dan perempuan berduaan maka yang ketiga itu adalah shaiton. Moga yang ketiga bukan penontonnya, Amiin : D) bertatapan sebelum saling berpisah. Hal serupa terjadi kembali setelah Noura bertemu orang tuanya. Noura dan Fahri saling bertatapan hingga Noura akhirnya memberikan surat cintanya. (Read Q.S. 24:30-31)
3. Muslimahnya pada aneh…
Percaya deh kalo akhwat2 ntar pada sebel ama film ini. Film ini sudah menggunakan judul yang sama dengan novel yang sarat dengan aqidah, Ayat-ayat cinta. Tentu, kesan dari para calon penonton film adalah film ini menggambarkan (menginterpretasikan) bentuk-bentuk Islam ideal, Islam yang bener. Termasuk kebiasaan (habit) akhwatnya juga yang selalu berpedoman pada Al-Quran dan As-Sunnah. Dicerita ini, 2 mahasiswi Al Azhar asal INA bergunjing (ghibah) padahal mereka sedang rapat. Masa wanita terhormat mau makan bangkai saudaranya sendiri? (Read Q.S 49:12). Kemudian cerita dari Nurul, Mahasiswi Indonesia terbaik di Mesir. Ironis sekali, jika mahasiswi Indonesia terbaik harus depresi berlebih hanya karena Fahri (pujaan hatinya) menikah dgn orang lain. Nurul membicarakan Fahri dengan penuh semangat dalam suatu forum sebagai bentuk dari depresinya dan dia tidak sadar kalau Fahri dan istrinya lagi ngamatin dia dari luar jendela. Di dalam novel, terlihat sekali kalau Nurul ini memang pantas menjadi mahasiswi terbaik, dia terlihat legowo (jav. berlapang dada) ketika Fahri menikah dengan orang lain. Dan masih banyak lagi.
4. Fahri’s Smile is So Expensive
Bisa diitung dengan satu tangan aja scene yang nayangin Fahri senyum. Yah, gimana donk… Ni masalah ga akan dibesar-besarin asal judulnya jangan ayat-ayat cinta. Apa kek… terserahlah! Kasihan Kang Abiknya. Jadi ternodai karyanya.
Ini mungkin garapan film Indonesia. Melankolis pol… Si Fahrinya dibawa ke suasana yang tidak memungkinkan untuk senyum (Lha wong ceritanya menyedihkan). Pada akhirnya bisa menimbulkan kesan bahwa menjadi muslim sejati tidaklah menyenangkan.
5. Timbul kesan bila jangan berta’aruf untuk memilih pasangan. This is not effective, not at all! Try another way, Dating maybe!
Di Novel, bisa dilihat bahwa Fahri bener-bener milihnya tidak asal-asalan. Istikhoroh dan lain-lain dia jalani. Oleh karena itu, Fahri dan Aisyah bisa gembira, bahagia. Mereka jalan-jalan ke kota-kota di Mesir. Bahagia banget sampai sebelum akhirnya Fahri harus mendekam di balik jeruji besi.
Entah mengapa film yang terinspirasi dari novel Ayat-ayat cinta ini seakan-akan malah terinspiasi dari komik sinchan (papa dan mama nya tidak pernah akur). Ego dari kedua pasangan ini jadi petaka bagi keharmonisan rumah tangga mereka. Tiap bertemu, mereka tidak pernah diceritakan untuk bahagia. Yang ada malah betengkar. Diceritakan pula dengan jelas bahwa Aisya tidak mengenal Fahri. Scene yang ngejelasin hal ini adalah diwaktu pengacara mengintrogasi Aisya. Pengacara ingin memastikan bahwa Aisya ta’aruf dengan Fahri dan menikah. Aisya hanya dekat dengan Fahri dalam waktu satu bulan. Kesimpulannya, Aisya ga kenal banyak tentang Fahri, suaminya (bisa ya??). Ditambah lagi Aisya ngobrak-abrik kamar Fahri di flatnya yang lama. Dia ngomong ke Saiful, “Saya cuma ingin melihat siapa suami saya? Itu aja ga bisa?”. Skenarionya di set supaya kita ragu ama perintah Allah. Mereka bikin logika yang cupet (pendek). Kakak saya, menikah dengan istrinya, awalnya ta’aruf juga dan tanpa pacaran. Sampai sekarang… saya tidak pernah melihat kakak saya bertengkar dengan mbak ipar saya. Mungkin di pekan ini kakak ipar melahirkan anak mereka yang keempat (mohon doanya). Tetep Harmonis kan?
6. Timbul kesan “jangan poligami”, karena kamu tidak pernah adil, tak kan mampu.
Fahri terdesak harus menikahi Maria. Namun akhirnya Fahri wajib mencintai Maria dengan tanpa terpaksa. That was the good side. Namun akhirnya Fahri diceritakan kuwalahan dan bingung. Aisya berencana untuk pergi. Dan lain-lain. Pokoknya kesan dari poligami itu buruk aja. Karena masalah tidak bisa adil. Syaiful juga bilang kalo satu istri saja belum tentu bisa adil. Bagaimana dengan dua istri. Duh, kayaknya manusia itu ga akan bisa adil deh. Makanya jangan poligami, itu kesan tersirat dari bagian akhir dari cerita ini.
Itu logika mereka. Melalui pendekatan kalkulus, saya akan menceritakan adil definisi saya. Misal ada persamaan matematik yang menginterpretasikan kemampuan manusia. Katakanlah f(x)=1-1/x. Semakin besar nilai x, berarti nilai y akan semakin besar. Akan tetapi nilai y tidak akan pernah bisa lebih dari 1. Di sumbu y, adalah level adil. Dan di sumbu x (tentu saja dimulai dari nol) adalah proses Anda untuk adil (belajar dan praktik). Nah, proses belajar dan kualitas adil anda dapat digambarkan oleh grafik y=1-1/x tadi. Jika anda mau belajar, maka Anda akan bisa berlaku adil dengan lebih baik. Namun, tentu saja, Anda tidak akan menembus level adilnya Sang Mahaadil. Melalui grafik ini, dapat digambarkan, mungkin salah satu nilai diantara 1 <= y < takhingga. Karena, nilai dalam range ini tidak akan pernah ditembus oleh grafik f(x) tersebut.
Nilai tersebut memperlihatkan perbedaan antara Pencipta dan CiptaanNya, dan bukankah memang sifat Allah itu berbeda dengan makhlukNya. Itulah argumen saya, mungkin tidak sempurna. Jika kita memikirkan adil dengan seadil-adilnya, maka kita tidak akan pernah sampai. Sudah sunnatullah. Yang perlu dikatakan adil adalah proses untuk adil saja. Bukan adilnya itu sendiri. Allah mengetahui sedangkan kita tidak mengetahui.
7. Mengapa orang yang pandai Islam harus diceritakan gila?
Yang bercerita kepada Fahri tentang Nabi Yusuf di fitnah adalah orang gila. Orang ini selalu tertawa lebar. Mirip orang gila. Entah apa yang menyebabkan dia gila. Kesan yang timbul adalah bila kita semakin paham dengan agama, maka kita bisa seperti orang ini.
Saya kecewa dengan penokohan orang gila ini. Mengapa dia harus gila padahal dia paham agama. Apa karena kefanatikannya? Semoga scene ini tidak membuat kita lelah dan takut untuk belajar Islam.
Di novel, banyak para lulusan Universitas ternama yang ditahan bersama Fahri, mereka intelektual, mereka yang menasehati Fahri. Mereka terlihat intelek karena mereka dekat dengan Allah.
Itulah yang saya ingin kritik dari film ini. Jika film ini tidak berjudul ayat-ayat cinta, mungkin saya tidak akan berbicara seperti ini. Film ini bagus, kita memang bisa terbawa ikut ke dalam suasana ceritanya. Emosi yang ditimbulkan oleh film ini bisa membuat penontonnya berekspresi berlebih. Bila sedih, kita terbawa nangis. Bila tertawa, kita akan ikut gembira. Tapi bukankah yang begini ini sudah banyak di film-film Indonesia yang lain. Bahkan jika hanya ingin menyentuh emosi sampai ikutan menangis, saya sering kok lihat ibu saya menangis melinangkan air mata saat menonton ektravagansa atau acara komedi(Bisa ya? Ya iyalah… kan nonton ektravagansa sambil ngiris bawang merah).
Satu nilai yang beda yang kita semua harapkan di film ini muncul. Satu nilai yang terdapat dalam novel karya Kang Abik. Nilai yang tak kan ternilai dengan dollar, emas, mutiara, bahkan berlian. Nilai yang mampu menyadarkan, merubah, dan membangun jiwa. Nilai agama. Nilai tentang aqidah. Nilai yang membuat hidup kita islami, lebih beriman, dan menyelamatkan kita dari krisis multidimensional yang dialami oleh negara yang memiliki penganut Islam yang terbesar di dunia ini.

nonton ahhh
jangan lupa juga buat baca buku (novel) nya ya….
keren sekali analisisnya. Saya apreciate bgt Anda mengoreksi soal makan=minum dengan tangan kiri. Nyebelin memang. Tapi saya pernah lihat di tivi seorang tokoh muslim melakukan kegoblokan yang sama.
Lalu soal ghibah pada poin ketiga. Sip! Saya suka komen yang ini.
Tapi saya heran, untuk apa Anda menterjemahkan kata kebiasaan (habit) ?
saya setuju sama opini anda mas, jujur aja, setelah nonton saya cukup kecewa karena film ayat-ayat cinta sepertinya lebih cocok dijadikan drama percintaan ketimbang (menurut pembuatnya) sebuah film agama yang bisa memberikan pemahaman lebih tentang Islam. Lebih baik judul filmnya diganti saja, dan kalo film ini masuk kategori box office saya ucapkan selamat buat produser atau sutradaranya, tapi mohon diingat bahwa anda sedang meraup sukses di “dunia”…
SEPAKAT buanget !!
Wah… satu orang saja kritikannya sudah segini banyaknya ya…. Kadang berkomentar memang jauh lebih mudah dari pada menjalaninya.
Bukankan Islam juga mengajarkan kita untuk menyampaikan sesuatu dengan cara yang baik….
mungkin saat mengkritik film AAC bisa kita sampaikan dengan kalimat-kalimat yang baik. Setidaknya untuk menghargai hasil jerih payah Hanung. Bisa dibaca di http://www.hanungbramantyo.multiply.com.
Kalau Kang Abik tidak keberatan dengan pemakaian judul yang sama, mengapa kita harus merasa perlu menggantinya?
Kecuali kalau Kang Abik sudah menyatakan keberatannya, ya what can I say?
Saya sih berpikirnya simple saja…. Film ini sangat berbeda dari film Indonesia yang lainnya. Sudah menampakkan kemajuan, walau bertahap (dalam arti masih banyak keganjilan di sana-sini). Menurut saya ya baguslah….
Mari kita beri masukan yang berharga (dengan kalimat yang baik), agar Hanung tidak berhenti membuat film Islam lainnya, yang tentunya lebih baik dari AAC.
Assalammu’alaikum…..akhi
Bagus sekali analisisnya. jujur ya, setelah nonton saya sangat kecewa. unsur dakwah yang sangat saya harapkan muncul malah kelihatannya sedikit sekali.
saya juga kecewa saat adegan di metro. saat fahri memberikan pembelaan terhadap aisha dia malah “ditonjok” oleh orang mesir “yang kelihatannya paham agama”
padahal di novelnya jelas-jelas dikatakan orang mesir itu mudah menerima kebenaran…yang lebih tidak suka lagi setelah memukul dia pergi dengar meneriakkan “Allahuakbar”….kalau seperti itu rasanya islam tidak rahmatan lilalamin ya???
terus yang paling membuat saya kecewa adalah tidak adanya adegan saat maria bermimpi ingin masuk surga sambil melantunkan surat Maryam, padahal menurut saya inti dari novel ayat-ayat cinta ada pada bagian akhirnya….jujur, saat membaca bagian akhir itu saya benar-benar menangis….
anyway…film garapan mas hanung ini bagus, namun “kurang” pantas menyandang label “Ayat-ayat Cinta” sebuah novel pembangun jiwa…
benar seperti kata anda “Cinta tanpa Ayat-ayat…..
Terlepas dari banyaknya perbedaan antara novel dan filmnya..tapi film ini sungguh bagus.
Good Job, Great movie!!
Karena memang tidak akan pernah bisa menceritakan seluruhnya dengan lengkap sebuah novel yang tebal dalam waktu 2 jam.
Tak ada manusia yang sempurna, begitu juga dengan film AAC ini. Tapi usaha mas Hanung untuk membuat film Islami yang menyisipkan unsur Islami dan menyiarkan da’wah patut diacungi jempol.
Saya tidak sebal dengan film ini (menyitir komentar anda yang mengatakan akhwat2 pada sebal dengan film ini) malah saya senang dengan film ini. Meskipun tidak sesuai dengan novelnya.
Kata siapa timbul kesan bahwa jangan berta’aruf setelah mendengar skenario di film ini… Saya malah menangkap sebaliknya. Bagaimana kuatnya Aisha dan gigihnya Aisha mencari cara dan bukti gar Fahri bisa bebas dari penjara. Ini menunjukkan kecintaannya yang besar terhadap suaminya yang baru dikenalnya dalam waktu sebulan.
Dan memang dalam pernikahan seseorang tidak akan pernah benar-benar bisa 100% mengenal pasangannya masing-masing. Apalagi untuk pernikahan yang baru berumur sangat singkat. Jadi sangat wajar konflik-konflik terjadi. Karena itulah bumbu dari sebuah pernikahan.
Mungkin kakak anda dan kakak ipar anda sangat menjaga satu sama lain. Karena memang menjaga keharmonisan di depan orang lain itu diharuskan dalam Islam. Walau sebenarnya ada konflik yang sedang terjadi. Tapi itu harus ditutupi dari orang lain.
Kata siapa manusia tidak bisa bertindak adil? Setiap manusia bisa bertindak adil sesuai dengan porsinya masing-masing. Dan bila memang tidak bisa berlaku adil, maka jangan berlaku poligami. Bukankah itu yang disyariatkan bila ingin berpoligami, “Berlaku Adil”.
Poligami itu halal asal sesuai dengan yang disyariatkan oleh Islam, dan akan menjadi makruh atau haram apabila tidak bisa menjalankan apa yang sudah sesuai dengan syariat.
Wallohu’alam bishowab….
Semoga Mas Nugraha Hardika memang sudah menjalankan sunnah-sunnah dalam Islam, seperti, tidak makan/minum dengan tangan kiri, tidak makan/minum sambil berdiri, selalu menjaga pandangan, tidak pernah berkhalwat dengan yang bukan muhrimnya, berta’aruf dalam memilih jodoh, tidak pernah bertengkar selama pernikahan, selalu tersenyum, selalu menyampaikan kritik yang membangun dan mendidik dan bukannya kritik yang menjatuhkan dan mencela. Kritik yang disertai solusi serta implementasi yang sudah diaplikasikan dari diri sang pengkritik.
Semoga…
Wassalam ww.
Salut buat Mas Nugraha atas tulisannya yang cukup membuka mata. Semoga bisa menyadarkan dan menambah motivasi kita untuk mau bertanya dan belajar ilmu agama kepada para ahlinya (Ulama) seperti yang dicontohkan oleh Mas Nugraha, dan bukan (maaf) sekedar hanya dari membaca buku2 / film. Kami berlindung kepada Allah dari menyangka bahwa diri kita ini sedang berbuat, berhujjah membela ataupun sedang mempromosikan kebanaran (yang M’aruf) padahal sesungguhnya sebaliknya. Naudzubillah.
Amiin… Smoga tetap dilindungi olehNya dari kebodohan kemalasan dan dominasi manusia.
Assalamulaikum Wr Wb
Mas Ada tiga hal yang menjadikan orang bodoh didunia ini yaitu :
1. Orang yang tidak dapat membaca ayat ayat Tuhan (yang tersurat maupun yang tersirat, termasuk fenomena2 yang terjadi di masyarakat pada zamannya)
2. Orang yang tidak dapat mengetahui kebodohannya sendiri maupun kebodohan umat yang terdahulu.
3. Orang yang tidak mau mendengarkan petuah atau nasehat orang – orang yang berilmu (termasuk yang berpengalaman)
Nah semoga dari film ayat – ayat cinta yang merupakan visualisasi dari novel ayat – ayat cinta, dapat kita jadikan hikmah dan pelajaran yang baik buat film – film religius selanjutnya, dan yang menonton film tersebut. Dan semoga kita tidak termasuk dari orang bodoh diatas. Dan semoga kita dijauhkan dari kebodohan umat yang terdahulu.
Amin Ya Rabb ….
Wasalam …
Btw BENAR!. Setelah mengamati dan membandingkan antara Buku Novelnya dengan filmnya ternyata benar-benar ada paradoks. Kalau di buku novelnya Kang Abik berusaha mengajak orang untuk bangga, mencintai, mau belajar dan mengamalkan Syari’at Islam secara murni dan konsekwen, tetapi di film produksi MD Entertainment (yang merupakan keluaga Punjabi pembuat sinetron2 televisi) ini justru sebaliknya. Yang ada malah menggiring orang jadi SINIS baik terhadap syari’at Islamnya sendiri maupun terhadap simbol2 keagamaanya. Hebatnya itu semua dikemas SACARA HALUS. Rupanya Punjabi CS tidak puas setelah melakukan serangan “Ghozwul fikri” yang dahsyat lewat sinetron2nya di layar kaca, yang efeknya kini dirasakan bahkan sampai ke pelosok2 kampung di seluruh Indonesia (terutama terhadap generasi mudanya), sekarang melakukannya lewat film bioskop dengan cara mendompleng ketenaran buku novel AAC-nya Kang Abik. Setelah menonton film ini, alih-alih menggiring orang untuk mencintai dan ingin belajar Syaria’t Islam yang benar lebih dalam lagi, yang tinggal hanyalah cuma memperkenalkan & mengajak orang -terutama bagi yang baru- untuk mulai menyukai Gd.bioskopnya. Ibarat sekali pukul langsung kena dua. Kasihan Kang Abik. Untuk ke depannya mudah2an bisa lebih hati2 kalau berurusan,bernegosiasi ataupun berbisnis dengan industri2 “merk” tertentu. Jangan sampai kecolongan lagi. Apalagi yang berkaitan dengan IZZAH Islam dan kemaslahatan kaum Muslimin. Sebab kalau salah2 bisa berabe urusannya. Tetapi untungnya walaupun sampai saat ini kita (ummat Islam) masih belum punya media yang represantatif yang bisa mewakili Ummat Islam (seperti televisi misalnya), paling tidak masih banyak dari saudara2 kita yang pemahaman agamanya lebih baik serta PEDULI, diantaranya melalui blog2 di Internet berusaha untuk meluruskan hal2 yang dirasa menyimpang agar ummat Islam menjadi LEBIH MELEK dan tidak gampang TERPERDAYA/TERTIPU.
yg udah coment yox introspeksi diri, n buat hanung mdh2an ini jd film awal u buat film islami yg lebihlebih baik lg. semua bs dijadikan pelajaran (ehm………)
Saya pribadi tidak merasa aneh dan tidak terlalu mempermasalahkan Hanungnya. Dia orang film murni (bukan spesialisasi ahli agama). Jadi wajar kalau film “Da’wah” garapannya ini banyak bermasalah disana sini ditinjau dari sisi Sya’riah. Apalagi dibelakangnya MD Entertain (Punjabi CS) yang sudah “sukses” membuat banyak sinetron2 “agama Islam” ditelevisi dengan cara menjadikan orang2 bersorban dan berjubah (Kiai) kerjanya cuma ngusir setan dan terbang sana sini. Mudah2an kedepannya jadi pelajaran buat Hanung untuk mau berdiskusi dulu (tidak sombong) dan melibatkan orang2 yang memang ahli (agama) kalau benar2 serius mau bikin film Da’wah seperti yang diamanatkan ibunya. Justru yang saya tidak habis pikir adalah Kang Abiknya yang selalu bilang/ gembar-gembor dari awal bahwa dia akan mengawal film ini agar tidak keluar dari bingkai Syari’ah dari awal sampai akhir. Btw sayang saya tidak sempat datang di acara jumpa penulis AAC di pameran buku Islam kemarin. Ada yang datang dan sempat mendengar jawaban/penjelasan dari Kang Abik?.
Saya usul buat Kang Abik kalau mau memfilmkan lagi karya2nya yang lain, tolong sutradaranya DEDDY MIZWAR ajah !!!
ok! aq jg s7 bnget!!
aq sngaT kcwa,
pdHal flm AAC adlah flm yang Q tunggu2 krn aq ska sama novelnya,
tp stelah liat flmNya, WaH…….. bda bngeT, aq KECEWA!!!
dan menurut pngamatan saya semua novel yang diflmkan pasti hasilnya mengecewakan.